Kecurangan Hasil Pilkada DKI Jakarta 2017 Terungkap

Artikel ini saya buat atas tanggung jawab pribadi dan dengan nama saya sendiri Alfiansyah. Jadi kalau mau berurusan, minta bukti, penyelesaian, atau apapun yang mengancam silakan hadapi saya langsung.

Dan terima kasih kepada surat pembaca blog ShukanBunshun yang sudah berkenan menerima tulisan saya. Semoga ada titik terang dan keadilan benar-benar berpihak pada yang jujur.

Kejadian ini murni saya alami dan ketahui selama dua putaran pilkada DKI Jakarta 2017. Pemilihan gubernur ibukota yang awalnya saya tidak pernah terpikirkan untuk ikut campur karena memang pusing berurusan politik.

Kecurangan Hasil Pilkada DKI Jakarta 2017 Pemilihan Gubernur Terungkap

Pada pemilihan putaran pertama bulan Februari kemarin, saya memang tidak berniat untuk mencoblos. Dan saya pribadi tidak pernah ikut mencoblos pada pesta demokrasi sejak lahir tak pernah sekalipun menggunakan hak pilih saya, termasuk pilpres. Mengharamkan diri untuk ikut partisipasi di pemilu.

Kebetulan, hari itu pilkada DKI 2017 sama dengan libur kuliah saya. Alhasil, sejak malam sebelum hari pemilu saya begadang dan terbangun siang hari tanpa menuju ke bilik TPS. 

Siangnya bangun jam 14.00, teman saya datang ke rumah. Dia memberikan saya satu lembar amplop yang ternyata berisi uang 25ribu rupiah. Saya tanya ke rekan saya tersebut untuk apa dan dari siapa duit itu, dia hanya bilang "Udah lah ambil aja."

serangan fajar amplop dari ahok

Dengan nada memaksa saya minta dia menjelaskan semuanya. Hasilnya sangat membuat saya kesal dan ingin sekali membongkar semua ini sambil berteriak di depan lokasi TPS yang sudah bubar itu.

25ribu rupiah yang melecehkan! Ini namanya PELACUR DEMOKRASI.

Hak pilih saya disalahgunakan, percaya atau tidak, stiker pasangan nomor urut dua (2) Ahok - Djarot berada di dalam amplop tersebut bersama dengan uang dua puluh lima ribu rupiah. Teman saya melanjutkan, bahwa katanya hak pilih saya sudah ditentukan untuk paslon tertentu. 

Seketika ingin berteriak, BANGSAT! KOK CUMA 25RIBU. Nggak, ini serius. Tadinya saya mau teriak dan ngelabrak semua yang ada di TPS 5 lingkungan saya, tapi udah terlanjur bubaran. 

Identitas saya dipakai orang lain untuk memilih paslon tertentu dan bukan saya juga tidak atas persetujuan saya yang menggunakannya. Hansip TPS ngapain kerjanya, terus itu tukang catet suara mau aja dibegoin. Kan tolol kalian semua kalau bersekongkolan. 

Cari pemimpin yang murni suara pilkadanya, bersih dan transparan kinerjanya, jujur, sopan perilakunya. 

Putaran Kedua Lebih Parah

.. April ternyata ada putaran kedua pilkada DKI Jakarta buat milih gubernur. Saya sih baru tahu, karena selalu masa bodo dengan urusan politik sampah. Tapi apa yang saya lihat dan alami sendiri kemarin itu membuat saya mengernyitkan dahi sembari ingin berkata "NajisGoblok lu pada."

Subuh udah rame banget di deket teras rumah saya para panitia pemilu. Gak tau ngomongin apaan, yang jelas kesimpulannya saya dengar bahwa ada kesepakatan untuk menangin Ahok. Benar atau nggaknya ya itu urusan mereka, pokoknya ini semua saya tulis apa yang saya alami langsung. 

Pagi sekitar jam 10, saya didatangi seorang rekan yang mungkin jadi saksi. Dia mengatakan bahwa saya harus ikut dengannya ke TPS pada jam 1 siang atau tepat saat perhitungan suara. Awalnya saya tolak, tapi dia meyakinkan bakal ada kejutan dan kejadian menarik. Akhirnya dengan terpaksa saya melangkah ke TPS untuk pertama kalinya dalam sejarah. 

Jam 12.30 saya standby di TPS 5 itu lagi, hingga pukul 13.00 tiba, waktu dimana saatnya menghitung suara hasil pemilihan. Saya dan teman saya masih tetap menunggu penghitungan suara dimulai. 

Sampai waktu menunjukkan jam 13.40 belum ada tanda-tanda akan dimulai perhitungan suara. Justru panitia pada menghilang, tukang catet suara juga gak ada! Kemana mereka? Saya tanya ke teman saya. 

Dia bilang diajaknya saya kesini buat ngebuktiin kalau rencana pemenangan untuk paslon nomor dua benar-benar terjadi. Suara tidak dihitung secara transparan dan terbuka pada publik. WAH GOBLOG nih yang begini bikin ancur demokrasi. 

Ternyata hasil suara sudah lebih dulu dikumpulkan sejak jam 11 siang dengan persentase kemenangan 85%  untuk Ahok (391 suara), dan sisanya Anies Sandi atau golput. Saya tanya kepada teman saya itu apakah benar itu suara hasil dihitung jam 11, bukannya perhitungan suara jam 13.00? 

Terus katanya, dia udah standby dari jam 10 sejak bilik suara vote mulai mencurigakan. Saya pikir itu udah atas kesepakatan semua pihak yang ada di TPS tersebut, kecurangannya benar-benar gila. Bayangkan tukang catet suara, hansip TPS sampai warga tidak ada yang punya rasa curiga sedikit pun, atau minimal protes lah. 

Update: 

Senangnya saya karena sebusuk-busuknya bangke yang jauh ya tetap kecium juga baunya. Pemilihan di TPS 5 di wilayah saya akhirnya terbongkar kecurangannya, pihak yang terlibat dimintai keterangan polsek setempat. 

Ini bukan atas laporan saya, tapi mungkin saya juga terlibat atas laporan ke polisi. Karena yang melaporkan adalah senior-senior di wilayah saya berdasarkan bukti amplop berisi uang, sticker, serta saya dan teman saya sendiri dimintai keterangan oleh polisi.

Dan pemilihan ulang sudah dilakukan dengan hasil suara murni, anies sandi dari nomor tiga menang mengalahkan ahok djarot. 

Saya pribadi nggak begitu penasaran kenapa Anies Sandi menang, karena pada putaran pertama dengan perhitungan suara murni pun paslon nomor tiga udah menang duluan disini. 

Yang tadinya mau main licik buat menangin Ahok gagal lagi. 

Jadiin pelajaran aja ya, kalau haus kekuasaan dan meraihnya dengan berbagai cara kotor ambil deh tuh jabatan tapi jangan lupa ditanggung semua dosa rakyatnya yang sudah dibohongi, ditipu, dicurangi. Dah gitu aja. 

Makasih.




*Artikel ini berkategori 'Artikelisme' yang notabene dikirimkan pembaca untuk dipublikasi di blog Shukan Bunshun. Untuk info lengkap silakan baca pada tab Disclaimer. Jika ada hal terkait yang dipermasalahkan, segera hubungi kami.'

Kecurangan Hasil Pilkada DKI Jakarta 2017 Terungkap Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Shiroma Midun