Pasca Skandal: Cambridge Analytica Bangkrut dan Fitur Baru Facebook

Happy Birthday, Mark! Kolom komentar akun Zuckerberg dipenuhi ucapan hari jadinya. Pendiri Facebook itu kini berusia 34 tahun. Tapi bukan soal pesta dan perayaan ulangtahun Mark yang bakal dibahas kali ini, melainkan pergerakan FB pasca diterpa skandal Cambridge Analytica.

Facebook Phone Android.png

Apa yang berubah? Facebook bergerak cepat untuk introspeksi diri setelah skandal tersebut. Mulai dari memperbarui kebijakan privasi dan menegaskan pada penggunanya bahwa mereka sadar akan pentingnya kerahasiaan data.

Facebook berbenah dengan mengumumkan sudah dan bakal adanya sejumlah fitur terbaru yang segera mereka rilis dalam waktu dekat. Pada prinsipnya bakal lebih memanjakan pengguna yang memanfaatkan medsos berwarna biru itu untuk kepentingan bisnis, apalagi yang menggunakan Facebook sebagai partner dalam marketing.

Sekarang kita bahas dulu nasib tersangka utama, Cambridge Analytica.

Cambridge Analytica Menyatakan Bangkrut 

Sebuah perusahaan bergerak dalam bidang analisa data asal Inggris, Cambridge Analytica memang sempat menghebohkan dunia teknologi atas kasus pencurian data pengguna Facebook yang dianggap sebagai penyalahgunaan demi memenangkan Donald Trump dalam masa kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016 silam.

Sejak skandal tersebut, nasib Cambridge Analytica terombang-ambing. Pihak perusahaan menyatakan diri bahwa mereka sedang dalam proses penutupan akibat bangkrut.

Sebenarnya, sebagaimana dilansir Venture Beat, pernyataan penutupan Cambridge Analytica dikeluarkan berdasarkan perusahaan afiliasi CA yakni SCL Electrions yang lebih dulu menyatakan kebangkrutannya.
Menurut prosedur, bangkrutnya mereka merambat hingga Cambridge Analytica sebelum akhirnya bermuara di induk perusahaan yang menaungi keduanya, SCL Group juga ditutup. 
Cambridge Analytica Logo.png

"Proses awal sudah disampaikan lewat surat keterangan resmi yang dikeluarkan di London. Penutupan bakal dilakukan secara paralel hingga Amerika." ungkap Aleksandr Kogan seperti dilansir dari The Verge.

Benarkah penutupan dilakukan akibat perusahaan tak mampu menanggung beban berupa berita buruk yang tersebar di media seluruh dunia? Kogan pun tidak membantahnya. Kenapa? Cuma karena kabar buruk bisa membuat bangkrut? Ia juga menjelaskan lebih detail.

"Secara langsung atau tidak (kabar buruk di media) imbasnya pada klien dan pemasok data perlahan menjauh atau mundur dari statusnya yang bekerja sama dengan perusahaan." lanjut Kogan.

Kogan juga telah berupaya melakukan pembelaan atas nama perusahaannya terkait investigasi internal yang dilakukan pihaknya benar-benar tidak ada kekeliruan sama sekali.

"Seperti yang telah kami jelaskan bahwa tindakan kami masih berada di koridor hukum serta jadi bagian periklanan daring yang sudah sesuai standar dalam bentuk politik atau komersil." imbuhnya.

Cambridge Analytica merupakan konsultan yang jasanya digunakan Donald Trump ketika masa-masa kampanye Pilpres AS 2016. Mereka dituding menyimpan dan menyalahgunakan data pengguna Facebook yang didapatkan dari pihak ketiga Aleksander Kogan dan diketahui bekerja untuk CA sejak 2016.

Pengumpulan data yang dilakukan Kogan dalam bentuk aplikasi survei dan kuis kepribadian. Padahal aplikasi yang dikembangkan Kogan cuma dipasang oleh 310,000 pengguna. Tapi ini berefek sampai lebih dari 87 juta orang, sebab aplikasi tersebut juga dapat mengakses data pribadi milik teman-temannya. Ironisnya, satu juta diantara mereka adalah pengguna Indonesia yang kena imbas.

Facebook Malah Untung 

Alih-alih dinyatakan rugi dan kehilangan pemakainya, sejak skandal tersebut Facebook justru mengalami jumlah peningkatan pengguna. 

Survei yang dilakukan akhir April 2018 oleh media populer, Reuters di Amerika Serikat berhasil terkumpul 3,285 suara dari pengguna FB di AS. Hasil dari survei menyatakan lebih dari setengah jumlah pengguna Facebook tetap aktif berinteraksi di medsos tersebut seperti biasa. Beberapa pengguna lain justru mengatakan semakin intensif memakainya. 

Cuma kurang dari seperempat peserta survei yang memilih untuk menghapus akun Facebook-nya atau uninstall aplikasi tanpa hapus akun serta mengurangi intensitas pemakaian. 

Penurunan paling menonjol terjadi di jumlah pengguna Facebook dengan usia antara 25-35 walau tidak begitu drastis anjloknya. Awal April silam rerata pengguna yang masih mengakses akun Facebook setidaknya satu kali setiap hari berjumlah 71% sementara akhir bulannya hanya tercatat 68%. 

Analis dari Wedbush Securities, Michael Pachter sebut Facebook sangat beruntung. Sebab, data pengguna yang disalahgunakan cuma dipakai buat iklan politik, tidak bertujuan untuk tindakan kriminalitas. 

"Sejauh ini saya tidak menemukan satu pun pengguna yang dirugikan atas kejadian itu. Mungkin belum." kata Pachter seperti dilansir Reuters (12/5). 

Walau demikian, kesadaran pengguna terkait pentingnya privasi tercatat meningkat cukup signifikan sejak adanya skandal Cambridge Analytica. Lebih dari 79% pengguna menyadari dan lebih waspada terkait pengaturan privasi dalam masing-masing akun medsos, bukan cuma Facebook. 

Perubahan dan Fitur Baru Facebook 

Facebook kini sedang menyiapkan beberapa fitur terbarunya, bahkan sejumlah diantaranya sudah bisa dicoba meski masih dalam tahap percobaan. 

Layanan Facebook Kencan 

Biasa disebut "Facebook Dating Service", yang digadang-gadang dapat mengintimidasi keberadaan aplikasi Tinder

Secara opsional pengguna bisa melengkapi profil kencan. Entah dapat atau tidak untuk dilihat oleh sembarang orang, apabila telah mendaftarakan diri dalam fitur kencan nanti pengguna dapat menggunakan layanan Inbox / PM khusus secara terpisah dari aplikasi Messenger

Padahal fitur ini baru sebatas versi beta namun kabar tersebut langsung membuat saham Tinder Match Group anjlok sampai 25%. 

Pencabutan Chatbot Messenger Dibatalkan

Mungkin sebelumnya ada yang mengalami ketika akan komplain ke halaman perusahaan lewat Customer Service tapi dibalas otomatis oleh Chatbot, Facebook menyatakan mereka batal mencabut layanan ChatBot tersebut

Brand atau perusahaan besar dapat memanfaatkan chatbot pada pengguna / likers Fan Page sebagaimana biasanya.

Penghapusan Jejak

Atau biasa disebut "Clear History", bagi sebagian orang tidak asing dengan fitur ini karena memang kerap ada di aplikasi peramban (Browser). 

Nantinya fitur Clear History dapat membuat pengguna Facebook menghilangkan jejak data yang mereka "setor" entah untuk Facebook maupun aplikasi lain yang pakai iklan dan alat analisa. 

Translate di Messenger 

Kini pengguna Facebook Indonesia tidak perlu bolak-balik aplikasi Google Translate kalau lagi ngobrol sama orang Mongolia karena fitur penerjemah bakal segera disematkan di Messenger. 

Kalau kamu mau komplain ke brand yang notabenenya berasal dari luar negeri, pakai bahasa Indonesia juga bisa asalkan yang baku dan benar. Jangan alay atau disingkat-singkat. 

Begitulah kurang lebih yang sudah dan akan terjadi pasca skandal Cambridge Analytica serta beberapa fitur baru Facebook.