Senjakala Blog dan Alasan YouTube Lebih Menguntungkan

Minimnya literasi warga Indonesia sebagaimana hasil survei dan data dari UNESCO, negeri +62 ini punya minat baca memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Dari 1000 orang, cuma satu yang gemar membaca. 

Itulah pembahasan yang diunggah ke situs web Kominfo dengan judul "Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos". Setidaknya satu alasan kuat itu membuat saya berpindah haluan ke YouTube.

youtube vs blog mending mana.jpg

Lagi pula saat ini ternyata hasilnya YouTube lebih menguntungkan di beberapa niche yang saya tekuni. Kini blog cuma sekadar dijadikan pelengkap saja. 

Namun menarik untuk membahas bagaimana dan Blog dengan topik apa yang bisa bertahan di masa transisi ini. Topiknya didasarkan hasil penelitian dari beberapa jurnal yang saya baca.

Jika target utamanya adalah niche Fashion dan OOTD, maka ada kemungkinan besar audiens bakal sulit membaca blog dan lebih pilih melihat postingan Instagram milik Selebgram Fesyen. 

Kata Evan Blass, "Kalau Anda memiliki orang yang paham teknologi, maka Anda mungkin tahu bahwa mereka mengonsumsi konten baik di YouTube maupun di Blog."

1-2 tahun ini Blog telah terjun drastis setelah platform dan media sosial besar seperti Instagram & YouTube menjadi yang paling diminati. Kehadiran TikTok seolah menyempurnakan penurunan Blog. 

Meski demikian, ini seharusnya tidak membuat para Blogger yang masih menekuni dunia Blog menjadi putus asa, karena setiap detik minimal 70 ribu lebih kueri ditanyakan oleh orang-orang di Google. 

Yang berarti jika Anda melakukan beberapa upaya optimasi, Anda pasti akan menang dalam jangka panjang. Namun saya sudah lebih nyaman di channel YouTube yang mulai dibangun pada 2018 silam. 

Sejumlah website seperti situs berita Detik, Kompas dan kawan-kawannya masih akan selamat meski banyak orang Indonesia yang cuma baca judul lalu screenshot dan posting lagi di media sosial. 

Bagi beberapa Blogger sekaligus YouTuber, halaman Blog yang mereka miliki cuma sekadar dijadikan wadah berbagi dan menambah trafik ke channel YouTube. Itu justru bagus. 

Memang semua ada masa-masanya, kalau di bawah 2010-an mungkin kejayaan Facebook paling tinggi saat itu sementara YouTube belum sepopuler sekarang. Kini giliran Instagram, YouTube dan TikTok yang sukses merangkul dunia ke platform mereka. 

Kreator konten tidak bisa berbuat banyak selain harus beradaptasi terhadap perubahan ini. Apalagi di Indonesia, yang mayoritas warganya lebih memilih nonton penjelasan di YouTube (audio visual) ketimbang membaca teks di blog. 

Toh, kini semua rekan Blogging saya yang sudah dikenal sejak 2011 banyak yang meninggalkan Blog entah mulai bisnis baru atau ikut arus menjadi YouTuber juga.