Smartphone Memanfaatkan Percakapan Telepon Penggunanya?

Belakangan lagi heboh, sejumlah pengguna ponsel pintar berbasis OS Android di Florida, Amerika Serikat merasa janggal dengan sering munculnya iklan dalam akun media sosial milik mereka. Sebab, iklan yang dimaksud tampil jauh diluar preferensi mereka selama penggunaan internet (tidak berdasarkan algoritma sebagaimana biasanya). Tapi pesan sponsor itu muncul usai dia berbicara dengan temannya dan topiknya atau tema-nya sama persis pada iklan tepat sasaran tersebut.

Pengguna merasa curiga melaporkan dan mengeluhkannya melalui forum, atau akun media sosial mereka. Apakah benar sebuah media sosial dapat menguping percakapan telepon seseorang?

Salah satu terduga dan bisa jadi tersangka pada kejanggalan tersebut adalah Smartphone. Benda yang terkadang lebih pintar dari penggunanya seakan sudah jadi kebutuhan mayoritas umat manusia sekaligus sebagai perantara transmisi antara dunia maya maupun nyata. Ponsel sudah pasti punya fitur mikrofon untuk merekam ucapan sang pemiliknya.

Rekaman-rekaman yang dikumpulkan oleh produsen kemudian dapat digunakan secara sepihak baik secara langsung atau melalui ponsel, demi menampilkan iklan tepat sasaran alias tertarget. Pertanyaannya, benarkah?

Persoalan ini heboh memang tak lama, tapi juga tidak sebentar. Karena saat Google meluncurkan fitur instruksi "Hello Google!" buat buka hasil pencarian, semakin kuat asumsi bahwa sebuah Smartphone dapat mendengar hingga merekam ucapan pengguna. Mungkin orang Indonesia kurang peduli, tapi masalah privasi seperti ini jadi perbincangan di negara-negara Eropa dan Amerika.

Pengguna Twitter dengan akun @MikeCampbell85, Februari 2018 silam mengirim cuitan dan mengatakan (translated): "Saya 100% yakin bahwa @Twitter, @instagram dan @facebook mendengarkan saya melalui iPhone dan menyajikan saya konten iklan dari apa yang saya katakan, terlepas dari mereka membantahnya."

Atau ada juga pengguna Indonesia mengeluhkan serupa, pemilik akun @tanganbelang_id dikenal sebagai YouTuber berkata:

TanganBelang Twitter YouTuber.png

Namun Facebook dan Instagram sendiri membantah bahwasanya mereka memanfaatkan mikrofon pada ponsel buat mendengarkan serta merekam percakapan pengguna. Selain itu, FB juga punya WhatsApp satu induk keduanya memang dapat mengakses mikrofon yang berfungsi untuk lakukan rekam suara di video ketika sedang Live atau Recorded.

Di sisi lain, mayoritas media sosial menjalankan targeted ads atau iklan tertarget berdasarkan beberapa preferensi antara lain usia, jenis kelamin, siapa yang diikuti, pekerjaan, serta algoritma aktivitas pengguna, bukan pakai cara lewat rekaman perbincangan telepon.

Apabila yakin pada pengakuan serta kebijakan Instagram, mungkin Google dapat dituduh sebagai tersangka lainnya. Kenapa perusahaan asal California itu seakan jadi yang paling mungkin sebagai biang keladi terjadinya penyadapan perekaman dalam percakapan hingga munculnya iklan tertarget? Mari bongkar.

Pertama, Google merupakan pemilik, pengelola sekaligus pembuat sistem operasi Android. Kedua, dia pun memiliki ekosistem periklanan serta berharap iklannya tertarget.

Jadi jawaban singkat dari apakah Smartphone Anda merekam apa yang Anda bicarakan? Jawabannya: YA, pelakunya adalah Google. Tapi, sebelum Anda mencaci-maki perusahaan teknologi terbesar dunia itu, tahan dulu lalu baca sampai habis.

Google dalam kebijakan privasi mereka mengatakan bahwa perekaman percakapan antar pengguna memang dilakukan tapi cuma pakai syarat tertentu saja antara lain:
  1. Anda memberi izin pada Google untuk akses mikrofon pada ponsel. 
  2. Aplikasi bawaan dari Google sedang dalam pemakaian. 
Namun, Google juga menjelaskan mereka mempersilakan pengguna untuk melihat rekaman apa saja yang telah terekam dengan menggunakan cara berikut ini:
  • Masuk ke halaman Google My Activity untuk lihat aktivitas Anda selama menggunakan aplikasi bawaan ponsel, khususnya Smartphone jenis Android. 
  • Klik tanda tiga titik vertikal di sisi kanan atas layar desktop dan pilih Filter by Date & Product pada kolom pencarian. 
  • Hilangkan tanda centang pada tulisan "All Products", lalu ceklis di menu tulisan Voice & Audio kemudian klik lagi tombol Search. Hasilnya dapat dilihat. 
Akan muncul sejumlah tombol Play, artinya cukup banyak mereka meraup rekaman suara dari ponsel Anda. Sekarang cobalah putar rekaman satu per satu, akan terdengar suara ucapan Anda sendiri atau yang pernah terekam di lingkungan Anda. Intinya, data rekaman tersebut dihasilkan saat aplikasi Google maupun Assistant terbuka dan kesimpulannya Google sama sekali tak mendengarkan percakapan Anda. Lalu siapa?

Karena Teknologi Masih Mahal 

Pengamat teknologi dan pihak Google telah mengakui bahwa tak menutup terjadinya rekaman percakapan dari ponsel dapat didengarkan lalu memanfaatkannya untuk iklan tepat sasaran, namun sisi negatifnya bisa disalahgunakan sebagai tujuan mata-mata.

Tapi teknologi buat merealisasikan semua itu masih mahal dan minimnya pertimbangan profit cuma bikin perusahaan sebesar Google pun rugi bila menerapkannya. Semisal, mengonversi suara ke dalam bentuk kode untuk kemudian dibaca otomatis oleh algoritma iklan pasti butuh data serta server tidak sedikit, mahalnya tuh disini.

Sedikit contoh perhitungan kalau sekali Google kirim data dari percakapan pakai Kilobit, paling efisiennya berbentuk iLBC 15kbps VOIP Codec mengirim ke server. ILBC berfungsi melakukan pengiriman data kurang lebih 112 KB per 60 detik, lalu 6,7 MB / jam, 162MB / hari, dan 59GB per tahun hanya untuk memonitor percakapan pengguna setiap hari.

Apabila di-filter cuma 60 menit saja ucapan direkam, jelas membutuhkan penyimpanan memang cuma 2,5GB buat 12 bulan. Namun angka itu masih besar karena ada lebih dari 2,5 sampai 3 miliar Smartphone aktif saat ini jadi apabila disimpan perlu alokasi minimal 6,5 EKSABIT pada server. Angka fantastis untuk perusahaan sebesar Google pun.

Lalu apabila bicara soal pengonversian suara ke teks biayanya juga cukup mahal. Buat 16 detik obrolan membuthkan dana $0,006. Katakanlah merekam sehari per-jam, setahun butuh 525 dolar AS untuk satu pengguna Smartphone, bagaimana 2,5 miliar HP? Butuh setidaknya 1,3 triliun dolar AS hanya untuk proses konversi suara ke teks supaya dibaca algoritma iklannya Google. Biaya itu belum termasuk sumber daya lainnya sebagai pendukung.

Jika proses untuk mengimplementasikannya sebegitu mahal, maka wajar saja apabila biro iklan belum mau menggunakan cara tersebut agar iklan mereka lebih tepat sasaran. Memang, tidak menentu apabila masih bergantung pada referensi aktivitas pengguna selama browsing, chatting, iklan tertarget juga masih sering kali meleset.

Jadi Siapa Pelakunya?

Apabila pertanyaannya masih "Smartphone mendengarkan percakapan pengguna demi iklan tepat sasaran?" jawaban pastinya belum mutlak ditemukan. Namun tersangka utama tadi sudah tereliminir alami.

Prinsip akhir, hampir puluhan dan ratusan iklan Anda jumpai di internet setiap harinya. Dari sekian banyak mungkin memang ada setidaknya satu iklan sesuai pada minat Anda di waktu tertentu. Dan Anda akan fokus di iklan yang memang sesuai minat sendiri hal ini semakin membuat yakin saat konten iklan tampil setelah jadi bahan obrolan. Tapi hak Anda buat mengabaikan iklan tak berdasarkan konteks dan jumlahnya banyak. Itulah yang terjadi.
Smartphone Memanfaatkan Percakapan Telepon Penggunanya? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Shiroma Midun